JANGAN SALING MERUSAK

budi_Front3
:::::

:::::

ANDA penggemar bonsai? Atau malah pengurus klub, pengurus PPBI, pengurus Aksisain? Anda tentu tahu bagaimana hingar-bingarnya “rimba persilatan” bonsai di Indonesia sekarang ini. Ribuan orang terlibat di dalamnya, merangsek ke semua provinsi dan hampir semua kabupaten/kota di negeri ini.

Yang hingar bingar dan akhirnya mampu menggetarkan jagat bonsai internasional itu, dulunya digerakkan oleh hanya –sekali lagi hanya– tujuh orang! Salah satunya adalah Budi Sulistyo yang kini menjabat Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri PPBI (Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia), salah satu ‘kaisar’ bonsai dunia.

“Saat itu (1982) PPBI anggotanya hanya tujuh orang, termasuk saya. Orang yang bisa bonsai di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari di tangan. Saya mulai mengembangkan seni bonsai di Indonesia walau menemui banyak halangan,” cerita Budi Sulistyo pada bursabonsai.com.

Pemphis Acidulla [koleksi dr. Tri Joko]

Pemphis Acidulla
[koleksi dr. Tri Joko]

Anggota Board of Director BCI (Bonsai Club Intertional) ini mulai menekuni seni bonsai pada 1976, beberapa bulan sebelum menyelesaikan kuliahnya di IKIP Sanatadharma sekaligus di teknik sipil UGM –keduanya di Yogyakarta. Masa-masa itulah, ketika tengah menganggur, ide main bonsai masuk ke benaknya.

Ditahun 80 Budi Sulistyo pindah ke Jakarta, dua tahun kemudian (1982) ia resmi bergabung dengan PPBI. “Saat itu majalah ASRI adalah media yang sangat membantu perkembangan PPBI,” katanya. Anggota Nippon Bonsai Association ini menambahkan, “baru di tahun 1985 setelah PPBI jalan dan punya cabang di Bandung, pak Ismail Saleh masuk ke PPBI dan merangsang pertumbuhan ke seluruh negeri.”
Ini dia perbincangan bursabonsai.com dengannya ….

Apa pendapat Anda mengenai semakin digemarinya bonsai buah dan bonsai bunga di luar Indonesia?

Juniper Sinensis [koleksi dr. Tri Joko]

Juniper Sinensis
[koleksi dr. Tri Joko]

Bonsai buah dan bonsai bunga adalah bonsai yang sangat atraktif. Memang, bonsai jenis ini akan kehilangan pamornya jika pas tidak berbuah dan berbunga. Tetapi kalau berbuah dan berbunga, dia akan menjadi bonsai yang sempurna. Adalah bodoh jika kita tidak bisa mengapresiasi Diospyros Montana jika sedang berbuah.

Dalam arus besar trend bonsai di dunia sekarang ini, kira-kira dimana posisi Indonesia?
Indonesia sedang dalam posisi yang sangat strategis, terutama sebagai salah satu pendiri utama ASPAC. Anda tahu, dalam soal bonsai, Indonesia sangat dihormati Negara lain. Kami punya banyak bonsai bagus dengan begitu banyak ragam spesies. Kita juga lebih banyak punya seniman bonsai. Sayangnya bahwa kebanyakan dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, sehingga kita tidak bisa mengekspos mereka ke pentas dunia internasional. Sekarang kita tengah berupaya menemukan jati-diri bonsai Indonesia. Beberapa dari mereka sudah sangat baik, beberapa diantaranya, menurut pikiran saya, melangkah (menyimpang?) terlalu jauh.

 

BUDI WULISTYO

BUDI SULISTYO

Apa kendalanya?
Saya pikir kita harus melibatkan lebih banyak orang-orang kelas menengah berpendidikan dalam masyarakat kita. Kita harus mendorong para seniman bonsai kita untuk mempelajari bahasa asing serta seni berbicara di depan publik (public speaking). Ini penting juga, bagaimana kita memperlakukan seni dengan cara yang benar. Ada begitu banyak bonsai tanuki yang diekspos sebagai bonsai beneran. Ini bisa merusak citra bonsai Indonesia. Membuat bonsai bukanlah sekadar bagaimana memperlihatkan keindahan sebuah bonsai ciptaan kita, itu juga menyangkut upaya memperbaiki kualitas diri kita sebagai manusia yang baik.

(Pertanyaan Darman Bonsai, pembaca bursabonsai.com) Salam sejahtera selalu buat Pak Budi, yang ingin saya tanyakan, sesungguhnya TANUKI itu apa? Apa perbedaannya dengan BONSAI? Karena menurut hemat saya, keduanya sudah berbeda dari sebutan namanya. Yang satu BONSAI, yang satunya lagi TANUKI.
Mas Darman, Tanuki adalah istilah dalam bonsai juga yang berarti bonsai yang dibentuk dengan tambahan batang kering yang seolah menjadi jin dan sharinya tanaman tersebut. Tanuki umumnya tidak diadu dengan bonsai asli. Celakanya kalau para artis/kolektor bonsai Indonesia memamerkan tanuki tersebut dalam lomba internasional secara sengaja atau karena ketidak tahuan dan kemudian menang, tapi kemudian ketahuan kalau itu tanuki. Nama besar dan kredibilitas bonsai Indonesia akan jatuh/tercoreng dan artis-artisnya dikatagorikan sebagai penipu. Pembentukan tanuki di Indonesia sangat maju dan luar biasa. Itu bisa diexpose sendiri sebagai suatu cabang seni tinggi yang indah dan berharga mahal, tetapi bukan bonsai asli.

BOUGENVILE [koleksi Mimmo Abate]

BOUGENVILE
[koleksi Mimmo Abate]

Apa kelebihan Indonesia dalam arus besar trend bonsai di dunia sekarang ini?
Kelebihannya, Indonesia adalah negara tropis yang sangat kaya dengan tanaman. Pertumbuhan cepat dan bahan alam juga berlimpah. Bahan alam membuat Indonesia dengan cepat bisa berdiri sejajajr dengan negara-negara bonsai yang lebih senior seperti Jepang, Cina, Taiwan ataupun Korea. Sekarang kita bisa beralih ke budidaya yang juga sangat cepat di negara kita. Asam Jawa (Tamarindus Indica) yang besar-besar dan tua bisa dicangkok dengan mudah.

Anda masih merawat bonsai Anda dengan baik? Masih membuat bonsai? Atau malah sudah menyuruh orang lain untuk pruning, wiring dan lain-lainnya?
Saya masih merawat bonsai saya sendiri. Tetapi sekarang saya lebih bergeser ke arah design. Pembuatan sepenuhnya oleh saya sedangkan kerja sehari harinya dibantu oleh pembantu saya yang sudah ikut saya selama 20 tahun dan kenal baik selera dan kemauan saya.

Berapa jumlah bonsai “world class” yang masih Anda koleksi? Total punya berapa?
Bonsai world class rasanya bersifat relatif. Tapi koleksi saya cukup banyak dan jarang saya jual.

Dari sekian style bonsai, style apa yang paling Anda sukai?
Saya suka berbagai macam gaya baik yang tunggal maupun majemuk. Variasi gaya sangat menyenangkan dalam mendesign bonsai. Tetapi gaya apapun saya usahakan untuk tetap natural dan mengacu pada alam.

BRAZILIAN RAIN TREE [koleksi Budi Sulistyo]

BRAZILIAN RAIN TREE
[koleksi Budi Sulistyo]

Apa filosofi Anda dalam berbonsai?
Filosofi saya dalam berbonsai adalah “Mencintai alam dengan mengembangkan seni berbonsai dan juga sekaligus menjadi manusia yang lebih baik”

Seperti kita ketahui, di Indonesia ada PPBI dan Aksisain … dalam pengamatan Anda, bagaimana perkembangan bonsai di negeri kita?
Hal itu tidak ada masalah bagi saya. Saya adalah seorang nasionalis. Dalam hal ini siapa saja yang mencintai dan mengembangkan bonsai di Indonesia adalah teman teman saya. Persaingan baik untuk mengembangkan mutu sebuah karya seni. Yang tidak baik adalah saling merusak. PPBI merupakan satu satunya organisasi resmi yang bisa menjangkau seluruh pelosok negeri. Tidak mudah untuk mempertahankan keadaan seperti ini. Aksisain boleh juga melanjutkan citranya sampai mencapai pengakuan internasional yang baik. Sekali lagi jangan saling merusak.

Bagaimana dengan regenerasi ‘masternya’? Bisa disebutkan beberapa nama “master” muda kita yang potensial?

JUNIPER SINENSIS [koleksi dr. Tri Joko]

JUNIPER SINENSIS
[koleksi dr. Tri Joko]

 Saat sekarang sudah banyak pebonsai pebonsai muda yang berbakat baik di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakrta, Jawa Timur maupun Bali. Di luar Jawapun akan makin berkembang. Sayangnya mereka kuarang bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Jadi dibutuhkan ahli yang mulut lancar dan tanganpun mahir.

Dari survei sederhana bursabonsai.com kepada 42 pebonsai ‘serius’, 36 diantaranya memilih Rudi Julianto sebagai master muda yang paling berbakat …. Bagaimana pendapat bapak?
Saya kenal pak Rudi Julianto dan juga hasil karyanya yang bagus. Beliau memang salah satu artis muda yang sangat berbakat.

Apa kesibukan non bonsai (bisnis/kegiatan sosial) belakangan ini?
Saya masih bekerja di bidang properti, walaupun tidak terjun langsung. Kegiatan sosial ya banyak bertemu dengan teman teman ex alumni dari Gadjah Mada, SMA, IKIP Sanatadharma, serta kegiatan spiritual. Bonsai bagi saya adalah alat untuk mencari kesenangan dan kebahagian jiwa, bukan duit dan ketenaran lagi. Kalaupun dapat itu ya saya anggap sekedar bonus.

iwan I bursabonsai.com

MASKAT, MASTER PENJING INDONESIA
WALTER PALL : TANUKI IS A CHEAT, A LIE

9 Comments

  1. Soegeng says:

    Wawancara yg menurut saya bagus, adem, mencerahkan dan saya sefaham. Jempol buat bursabonsai.com ….. Hanya satu yang membuat saya agak confused, mengenai TANUKI. Pak Budi menjawab pertanyaan saudara Darman Bonsai, bahwa TANUKI itu bonsai yang ‘direkayasa’ dengan menyambung atau menempelkan keringan (JIN) atau SHARI. Terus bagaimana dengan Bonsai yang dibuat dari bonggol/ponggok kayu mati kemudian ditempeli pohon relatif kecil untuk mendapatkan daun (kesan hidup)Pak? Apa juga masuk kategori TANUKI?

    Terima kasih
    salam dari Bekasi

  2. EDDY MULYONO says:

    Saya hanya ingin kejelasan dari Pak Budi, apakah kesimpulan saya ini salah jika saya katakan, TANUKI menjadi semacam bonsai palsu atau ilegal dalam standar kontest bonsai (asli)? Apakah ‘kepalsuan’ dan ‘ilegal’ itu juga berlaku dalam standar kontes bonsai dunia?

    Thanks

    • Budi Sulistyo says:

      Kode etik itu universal. Jadi di mana saja berlaku. Kecuali kalau itu eksklusif untuk penikmatan pribadi ya gak ada masalah

  3. Bambang Kisoet says:

    Walau kita sesama penggemar bonsai Indonesia berbeda prinsip dan beda kubu, saya setuju “jangan saling merusak”. Marilah kita berkarya secara maksimal, tunjukkan kualitas kita di dunia internasional atas nama Indonesia.

  4. DODIK says:

    Bagi saya, tanuki adalah salah satu karya seni tingkat tinggi. Barangkali ini salah satu efek puncak kita dalam bekreatifitas untuk bonsai. Persoalannya, ketika sebuah karya itu harus ‘berhubungan’ dengan pihak kedua, ketiga dan seterusnya, dibutuhkan kejujuran tingkat tinggi. Dengan demikian tidak akan muncul unsur tipu menipu di dalam interaksi itu.

    • Budi Sulistyo says:

      Benar sekali pak Dodik. Kejujuran adalah unsur utama. Saya akui karya dengan batang mati tempelan bisa menjadi amat indah luarbiasa. Tetapi kita harus ngomong kalau itu tempelan, sehingga pembuatnya bisa menjadi seorang master tanuki.
      Bangsa dan rakyat kita sangat memerlukan kejujuran demi kemajuan bangsa. Banyak orang kita yang mengaku master dengan hasil karya yang hebat, tapi ternyata beli dari orang lain.
      Rakyat yang menjual sapi memompa air ke sapi sehingga beratnya bertambah, orang jual getah karet dalamnya diisi kerikil agar berat bertambah. Semua itu merugikan diri sendiri.
      Saya puji sifat bangsa Jepang yang begitu malu bila melakukan kesalahan, sehingga kalau perlu melakukan sepuku untuk menebusnya. Itulah semangat samurai yang seharusnya ditrapkan pada pebonsai kita.

  5. Usman pribadi says:

    Saya mau tanya pak, seberapa besar pohon belimbing bisa d cangkok

  6. Wan Nalo says:

    Bonsai bagi saya adalah alat untuk mencari kesenangan dan kebahagian jiwa, bukan duit dan ketenaran lagi. Kalaupun dapat itu ya saya anggap sekedar bonus. kata kata inspiratif, saya pun ingin yg seperti bapak katakan…

Leave a Reply

Copyright © 2013 bursabonsai.com · All rights reserved