BERBURU KE SURGA YAMADORI SANTIGI

sodik_1

SODIKIN :: Hari itu, 15 juli 2013, pukul 16:00, aku, Sodikin, sang pemburu yamadori santigi (pemphis acidula), laksana pejabat sangat penting saja. Bak VVIP, aku ‘bisa’ memaksa pesawat Lion Air menunda take off sekitar 10 menit.

Salah satu dudut Pulau Menui, surga yamadori Santigi

Salah satu dudut Pulau Menui, surga yamadori Santigi

Aku bergegas. Pramugari cantik berkulit putih bersih itu melambaikan tangan dan menyambutku dengan wajah cemberut, sementara seluruh penumpang Lion Air flight Denpasar-Makassar sudah 10 menit mengenakan sabuk pengaman tetapi pesawat tak juga tinggal landas. Semua mata menatapku penuh gusar, ketika pramugari cantik lainnya mengantarku duduk di kursi nomor 11 A.

Ini semua gara-gara di dalam tas gendongku tersimpan palu besar ukuran 5 kg, gergaji, linggis, gunting baja, tatah besar dan betel berujung sangat tajam.Sempat tertahan agak lama, bersitegang dengan security bandara Ngurah Rai, dan bahkan kena denda Rp 60 ribu ketika chek in. Jadinya, tiket Denpasar-Makassar itu total aku beli Rp 730 ribu. Alhamdulillah, semuanya lancar.

Pesawat mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar tepat pada pukul 17:10, matahari sudah di rembang malam. Aku menginap di kota Anging Mamiri ini semalam, sebelum esoknya aku harus melanjutkan perjalanan laut by kapal Pelni ke Kendari, dan kemudian ke Pulau Wowoni. Tiket sudah di tangan, rasanya bau yamadori santigi sudah berkelebatan di depan hidung.

Sodikin dan yamadori santigi buruannya di Pulau Menui

Sodikin dan yamadori santigi buruannya di Pulau Menui

Setelah menempuh perjalanan laut selama delapan jam dengan ongkos Rp 175 ribu, sampailah aku di kota Kendari. Turun di pelabuhan dan langsung ganti kapal, mengarungi gelombang selama tiga jam, sampailah aku di Pulau Wowoni. Selama meluncur ke pulau yang konon segera menjadi kabupaten pemekaran ini, kulihat pulau-pulau kecil dengan pemphis acidulanya yang menggiurkan. Tetapi sasaran perburuan yamadori santigi kali ini bukanlah di pulau Wowoni.

Matahari sudah tergelincir ke barat ketika aku sampai pulau Wowoni. Tetapi rasa penasarnku kadung memuncak, memutuskan terus melanjutkan perjalanan ke lokasi ‘gudang’ yamadori pemphis acidula. Begitu turun dari kapal, segera kusewa perahu nelayan dengan ongkos Rp 400 ribu. Deal! Tujuannya: Pulau Menuwi.

“Itu pulau terpencil pak, sekitar empat jam perjalanan laut. Kita berangkat sekarang, atau tidak lebih baik besok pagi,” kata sang nelayan.
“Tidak. Kita berangkat sekarang juga,” jawabku, penasaran.

Kami bertiga pun segera mengarungi lautan, menembus gelapnya malam. Oh iya, hamper kelupaan, sejak dari Makassar saya ditemani seorang teman sebagai penunjuk jalan.

“Ombaknya lumayan tinggi. Metinya bapak dating ke sini pada bulan ke 11, laut terasa tenang,” kata sang nelayan.

Karena ombak itulah, perjalanan kami jadi molor sekitar lima jam. Tetapi itu sungguh tak terasa. Aku asyik menangkapi cumi-cumi kecil yang bermunculan mengejar sinar lampu petromak. Setelah dapat beberapa puluh ekor, cumi-cumi itu kami bakar dan dimakan dengan kecap manis untuk buka puasa. Lumayan untuk sekadar mengganjal perut.

Selama 6 hari hanya makan singkong dan kepiting bakar

Selama 6 hari hanya makan singkong dan kepiting bakar

“Di depan itu, yang terlihat beberapa titik sinar lampu, itulah Pulau Menui. Kita segara sampai,” kata Sang Nelayan. Hidungku mulai kembang-kempis, mencium aroma yamadori pemphis acidula.

Hampir tengah malam kami merapat di Pulau Menui. Kami memtuskan tidur di atas kapal, sambil tak sabar menunggu esok hari menjelang. Pulau ini termasuk pulau terpencil, tidak ada sinyal handphone. Di Pulau Wowoni aku masih sempat dan bisa update status facebook untuk group World Bonsai League, tetapi di pulau yang hanya terdiri dari tiga desa kecil ini, aku benar-benar terputus hubungan dengan dunia luar.
Begitu bangun tidur, setelah membuat kesepakatan dengan pemilik perahu agar enam hari lagi menjemput kami, aku segera ke kantor kelurahan terdekat. Juga ke kantor perwailan kecamatan. Aku bukan pemburu yamadori pemphis acidula yang liar, aku harus mengantongi surat izin selengkap-lengkapnya. Setelah mengisi kas desa Rp 1 juta, kemudian menyawer Rp 350 ribu di kecamatan, surat izinpun aku kantongi.

Bembakar kepiting untuk buka puasa

Bembakar kepiting untuk buka puasa

Hari pertama aku habiskan untuk menyisir lokasi kantung-kantung yamadori santigi di Pulau Menui. Pulang ke penampungan, di sebuah gubuk kosong di lahan milik seorang pegawai kecamatan, hanya membawa dua yamadori. Kesimpulanku, luar biasa! Pulai Menui adalah salah satu surga yamadori santigi. Sayangnya peralatan yang aku bawa kurang lengkap, lupa pula membawa perbekalan mie dan kue-kue. Ini membuat cerita di hari-hari berikutnya menjadi agak dramatis.

Hari kedua dan selanjutnya, setelah ada penduduk yang mau membantu menggali dan menggotong, rata-rata per hari aku membawa 5 yamadori santigi. Maklum, susah mencari tenaga bantuan karena penduduk Menui sedang panen cengkeh. Pada jual mahal, barang-barang pun ikut melonjak mahal. Rokok kegemaranku yang satu paknya di Bali cuma Rp 9000, di Menui jadi Rp 16.000. Sebotol aqua 1,5 liter jadi Rp 7.000.

Selama di pulau surge yamadori santigi ini, aku benar-benar seperti warga suku terasing. Tidak sekalipun pernah makan nasi, hanya makan singkong bakar. Setiap habis berburu yamadori santigi, acara tetap kami adalah ke pantai berburu kepiting, ketam kenari, ikan dan kadang udang untuk buka puasa. Saur lebih banyak makan singkong bakar.

Terus terang, benar-benar penuh derita. Tetapi aku sangat puas. Ini pengalaman yang sangat berkesan, amazing banget!! Pulau Menui benar-benar surge yamadori santigi. Sepanjang mata kita memandang bertebaran yamadori santigi dalam ukuran ekstra large, susah mendapat yang small. Ini fakta. Hanya saja, repotnya, kebanyakan yamadori itu tumbuh di atas karang.

Sebagian dari 50 yamadori santigi hasil buruan Sodikin di Pulau Menui

Sebagian dari 50 yamadori santigi hasil buruan Sodikin di Pulau Menui

Setelah enam hari dan terkumpul 48 yamadori santigi, dengan berat hati harus aku katakana “sayonara” Pulau Menui. Perahu nelayan yang menjemput sudah menunggu di pelabuhan, dan ternyata ini adalah awal dari derita baru.

Sepanjang perjalanan laut menggunakan Kapal Pelni Tilong Billah, dari Pulau Wowoni sampai peabuhan Banua (Denpasar) para pemalak tak henti-hentinya dating menghampiri, meski aku sudah mengantongi izin tertulis dari desa dan kecamatan.

Mau keluar dari pulau Menui, aku dihadang aknum polisi: kenapa palak Rp 300 ribu. Transit di pulau Wowoni di datangi lagi oknum Polisi: kena palak Rp 300 ribu juga. Sementara di Kendari ketika ngurus surat karatina, aku kena palak 400 ribu. Plus dua yamadori yang bagus diambil petugas dengan alasan sebagai barang bukti. Ketika lagi menaikkan yamadori Santigi ke kapal di pelabuhan Kendari, kena palak oknum polisi Rp 350 ribu.

Setiap pemalak nilainya hamper sama dengan tiket kapal dari Kendari – Benoa di Bali, Rp 400 ribu, sementara untuk ongkos angkut (bagasi) 50 yamadori Santigi Rp 3 juta. Sial datang lagi ketika menurunkan barang dari kapal, kena palak petugas Rp 350 ribu. Dan bahkan ketika menaikkan yamadori ke atas mobil, ini sudah di pelabuhan Banua, Bali, pukul 21:00 malam, ada saja oknum polisi datang. Kena Rp 200 ribu lagi aku.

Uang Rp 9,6 juta —termasuk biaya akomodasi dan tiket pesawat— ludes untuk perburuan yamadori santigi kali ini. Sewa mobil angkut dari pelabuhan Banua sampai harus saya bayar di rumah. Tetapi meski kena palak di hampir sepanjang titik transit, aku tidak jera. Aku akan kembali ke Pulau Menui, surga yamadori santigi, bulan 11 nanti. [iwan@bursabonsai.com]

HARMONI BONSAI BOGOR 2013
PAMNAS PPBI CIREBON 2013

6 Comments

  1. Nur Fajri says:

    Wuakakakakkkk
    kasihan deh loe!!

  2. Aji Bonsai says:

    Salut mas brow … gak usah ngeluh, kan bawa pulang 48 yamadori, artinya tutup mata saja bakal nyerik 50 jeti. Masih untung 400% lah. Hehehehehe

  3. Bali Bonsai says:

    Lagian juga ngapain berburu santigi sampai ke pulau terpencil cak?

  4. Cak Nonot says:

    Wah cak Dikin panen raya!!

  5. Lee says:

    Alamat cak sodikin dimana ya di bali? ….hehe.

  6. Jubah Fesyen says:

    Idea yg menarik … tapi rasanya persembahan bahasa perlu di perbaiki…
    maaf ye admin .. bukan nak menegur .. tapi idea awak memang menarik…
    dan kalau gaya bahasa lebih baik… saya pasti ramai
    pengunjung pas nie…

Leave a Reply

Copyright © 2013 bursabonsai.com · All rights reserved