BEDAH CASCADE ALA BONSAI KOPLAK

1_CASCADE FRONT

CASCADE CONTROVERSY ::: Bonsai Cascade Style jarang menang di berbagai exhibition. Adakah yang salah? Apakah karena juri kurang bisa mengapresiasinya, atau karena style ini kurang menarik?

Sedikitnya empat pohon gaya cascade menerobos kelompok bergengsi The Best Ten pada PamNas PPBI Cirebon, 2013. Ini agak mengejutkan –dan terdengar heroik– mengingat ada ‘stigma’ bonsai cascade style nyaris tak mendapat apresiasi yang layak.

SANCANG "Best Ten Regional" koleksi Tedi Priatna Darma (Bandung)

SANCANG “Best Ten Regional” koleksi Tedi Priatna Darma (Bandung)

“Kemarin malam itu waktu kita diskusi seru tentang cascade, saya sebenarnya berharap-harap cemas pada nasib bonsai cascade saya di PamNas Cirebon. Tapi Alhamdulillah besoknya semunya dapat Best Ten … ,” kata Tedi Priatna Darma pada BursaBonsai.Com.

Tedi memang adalah pemilik empat bonsai yang mendobrak stigma bahwa cascade style jarang juara. Empat cascadenya itu dari spesies Serut, Hokkiantea, Sancang, dan Ulmus, menerobos Best Ten kategori Regional.

Persoalannya adalah, benarkah Cascade sulit merebut predikat-predikat bergengsi semacam Red Flag, Best Ten, Bes in Size dan Best in Show? Kenapa? Karena ada yang salah dalam sistem penjurian, juri yang kurang mampu mengapresiasi, atau bonsai cascade memang kurang menarik?

Berikut ini hasil diskuasi “Ala Koplak” anggota Bonsai Koplak Group di facebook dengan prolog dari Wisnu Jaka Saputra (Ketua Aksisain), Willy Wihana (pakar Genre Bonsai), Rudi Julianto (BokopArt) penegasan oleh Hammam Haris (Juri PPBI), sementara Cak Parto memilih absen.

Wisnu Jaka

Wisnu Jaka

Wisnu Jaka Saputra menilai, kebanyakan komponen art yang berupa flow untuk bonsai cascade ya begitu-begitu saja. Tidak banyak variasi. Jika tidak terjun lurus nggejejer ya menggantung setengah lingkaran. Mayoritas flow dasar seperti ini dengan beberapa variannya bagi dia pribadi relatif cepat membosankan, namun demikian hal tersebut dapat dipahami karena untuk membuat bonsai cascade dengan flow yang kaya gerak artistic sangatlah tidak mudah.

Kelemahan lain bonsai cascade dalam sebuah kontes, menurut Wisnu Jaka Saputra, adalah cara mendisplainya yang disamakan dengan bonsai style lain. Ini jadi tidak maksimal, sehingga juri tidak menemukan potensi maksimal. ‘’Bonsai cascade mayoritas dipresentasikan di atas pilar atau meja atau tatakan yang ketinggiannya sejajar dengan mata juri penilai, sehingga citra bonsai yang ditangkap mata mirip –tidak tampak signifikan– dengan bonsai gaya lainnya seperti semi cascade, slanting atau tegak berukuran small-medium,’’ kata Wisnu. Idealnya, lanjutnya, bonsai cascade ditampilkan diatas pilar atau tempat yang ketinggiannya di atas mata juri penilai sehingga citra terjunnya tampak lebih kuat.

WILLY WIHANA

WILLY WIHANA

Sementara itu menurut dr Willy Wihana, salah satu pionir bonsai Indonesia, Cascade Style adalah salah satu bentuk bonsai yang secara logika melawan kodrat alam. Maintenancenya ribet, harus mengawasi pertumbuhan pada ujung flow dengan cara mengurangi daun dibagian hulu flow, hrs mengarahkan ujung flow ke matahari untuk foto synthesa agar terjadi tenaga hisap daun, makanan mentah naik dari akar ke daun untuk di foto synthesa, makanan matang dialirkan keseluruh organ pohon. Ini proses fisiologi pohon dalam kepentingannya mempertahankan BENTUK cascade. Selain itu, Cascade juga miskin komponent art (FLOW). Kebanyakan cascade flownya dibawah standard, contoh ‘lidah menjulur’, menukik lurus ke bawah, base/main trunk terlalu dkt bibir pot, bahkan menempel, trunk yg turun terlalu dekat badan pot, setelah naik (base, main trunk, trunk) harus cukup tegak naiknya baru turun di titik tertinggi (efect dramaticly) dan drop ke bawah dengan jarak yang cukup jauh dari badan pot.

HOKIANTEA "Best Ten Regional" koleksi Tedi Priatna Darma (Bandung)

HOKIANTEA “Best Ten Regional” koleksi Tedi Priatna Darma (Bandung)

“Jika kemudian cascade kalah bersaing di kontes, itu karena komponent art tidak maksimal ditampilkan, karakter, morphologi atau bentuk dan art performance tidak tercapai. Di di Jepang sekalipun cascade sulit mencapai karakter idealnya,” kata Willy Wihana, pakar genre bonsai.
Sampai di sini, bisa disimpulkan, bukan salah juri jika cascade sulit mengimbangi style lain. Ada kendala mendasar yang membuat cascade secara ‘fisik’ tidak maksimal, diantaranya adalah komponen artnya tidak maksimal karena dia tumbuh ‘melawat kodrat’.

Tetapi Rudi Julianto yang sedang giat memperkenalkan BokopArt-nya, tidak seluruhnya sependapat. “Jawaban saya jelas, kasus ini sama persis dialami bonsai grouping. Maaf, yang bisa membuat dan apalagi menjuri bonsai cascade dan grouping di Negara kita Indonesia ini, agak langka. Ini kenyataan yang saya lihat, abaikan jika saya salah,” opininya.

Rudi Julianto

Rudi Julianto

Rudi Julianto kemudian bertindak jadi keynote speaker, ketika para bonsai artist peserta diskusi online ini makin bertambah dan mulai berdebat ‘Ala Koplak’. “Dalam bonsai cascade dan grouping, faktor kesulitan terletak pada FLOW. Banyak yang tidak mengerti atau sadar, jika kunci pertama ini (flow) tidak bisa dipecahkan, maka sering terjadi frustasi,” tegas Rudi sambil mempersilahkan semuanya pada floor.

Diskusi makin seru ketika beberapa peserta diskusi ‘Ala Koplak’ ini memposting berbagai bonsai style cascade, dan mempermasalahkan kekurangan dan kelebihannya. Dari cascade yang batang ganda, batang tunggal, dari yang natural deadwood hingga cascade yang deadwood-nya di cat sangat menor, dari yang semi hingga extreme cascade.

Kusiyono AE

Kusiyono AE

Tetapi, signifikansi dari “Kontroversi Cascade” ini jelas bukan pada Style. Kusiyono Ae misalnya, bonsai artis asal Cirebon ini menilai, jika bonsai cascade jarang berkibar di berbagai kontes, salah satu penyebabnya adalah karena style ini –dibanding style lain– cukup bikin sengsara pemiliknya ketika membawanya ke lokasi kontes.

“Lebih-lebih kalau membawanya ke lokasi pameran naik motor, hahahahaha,” sambar Andi Suwardi, bonsai artis asal Pekalongan.

TEDI BHC

TEDI BHC

Sementara itu Bonsai Hegar Cipariuk (Tedi) setuju persoalan utama Cascade adalah di flow. ‘’Kalau pohon formal, melihat flow dan menentukan tajuk lebih sederhana. Tapi kalau cascade, sering diperdeabatkan apakah di ujung batang, atau ditempatkan di cabang yang dinaikan ke atas. “Kalau batang ganda, satu ke atas jadi mahkota, satu ke bawah. Tapi kalau cascade itu satu batangnya, biasanya mahkota dibuat dengan cara menanikkan salah satu cabang ke atas. Tetapi ini sering mengaburkan flow. Meminjam istilah master di kamar sebelah, tariannya putus. Tidak tuntas,” ujarnya kolektor sekaligus bonsai artist asal Bandung ini.

SITOY SW

SITOY SW

Lain lagi Sitoy Suwarto, bonsai artis asal Pontianak ini menilai, cascade batang tunggal jauh lebih baik ketimbang batang ganda. Lebih rasional, meski handicapnya tak sesulit batang ganda. “Apakah rasional, jika batang pertama naik ke atas, batang kedua menukik drastis ke bawah, sementara hukum alam mengharuskan mereka sama-sama tumbuh ke atas, memburu sinar matahari, atau dua cabangnya sama-sama menukik kebawah karena gravitasi bumi,” ujarnya.

Rudi Julianto : Pohon cemara udang yang di tanyakan sensei Sitoy itu adalah gambaran sebuah pohon yang punya dua kekuatan tumbuh, keatas dan kebawah. Dua arah yang berlawanan inilah sebenarnya adalah kondisi bahan terbaik untuk membuat pohon dengan gaya cascade. Karena apabila kita hanya punya bahan dengan kondisi satu batang menjuntai kebawah, sebenarnya menurut saya akan sulit untuk dibuat gaya cascade yang bagus. Nah dengan demikian bahan yang bagus utk sebuah bonsai cascade adalah yang mempunyai dua arah tumbuh batang. Lalu kita harus menyelaraskan karakter dan arah tumbuh keduanya. Membawa pesan keselarasan drama alam, seolah hidup di daerah dengan tiupan arah angin yang sama. Atau adanya hambatan alam lain sehingga keduanya kompak tumbuh ke arah kiri. Ini lah yang di sebut pose mimik drama alam, jadi bukan hanya pada bonsai dengan deadwood saja bisa ditampilkan drama alam, tanpapun juga bisa.

Sitoy Suwarto: Kira-kira di alam mungkinkah pohon dengan dua kekuatan tumbuh yg berlawanan? Toh tidak ada hambatan untuk pohon kedua menuju keatas atau pohon pertama ikut menjuntai.

Agung Nugraha : bukankah logika cascade karena batang pohon tersebut menjuntai, tetapi karena tidak kuat menahan beban batang. Arah tumbuh tetap mengarah ke atas kan?

Ayah AG

Ayah AG

Ayah Ayunda Gardening : Saya pikir, bonsai cascade itu tidak terlalu tergantung pada mahkota, hanya cabang kecil lalu membentuk sebuah kanopi sdh lebih dari cukup.

Rudi Julianto : Contoh gampang gini aja….. Bisakah kita membuat bonsai yang indah dalam bahan berbatang dua, dengan kondisi batang yg satu miring drastis ke kanan dan yang lain miring drastis le kiri. Tentu akan sulit. Solusinya adalah dengan memutar drastis pula, shg posisi batang yang kekanan jadi keatas dan yang kiri jadi kebawah. Nah dalam kondisis yang demikian semuanya jadi masuk logika alam, sekarang tinggal selaraskan arah tumbuh kedua batang tsbt, beres kan!

Teguh Prasetyo : Ini agak lucu, tapi jangan tertawa hahahahaha … Saya menduga, kebanyakan juri kontes di negeri kita ini belum begitu mengenal gaya cascade secara mendalam. Tetapi yang paling sulit adalah cara menancapkan bendera secara cascade. Teknik ini kayanya juri belum mempelajari, jadi yg paling gampang ya chokkan saja, nancepin benderanya juga pake gaya chokkan.

Floor berubah jadi semacam reuni anggota Srimulat, khas Koplak: saling ledek, saling cela, penuh canda … terkial-kial, terbahak-nahak, tergelak-gelak, topik melebar ke mana-mana.

Diskusi kembali ‘bergairah’ ketika Rawe Ngawur, seorang bonsai artis dari Situbondo dan Hammam Haris seorang bonsai artis merangkap juri kontes asal Yogya, bergabung.

Hammam H

Hammam H

Hammam Haris: Maaf telat. Menurut saya, kontroversi ini kurang tepat. Cascade sudah banyak yang mendapat Red Flag d iberbagai kelas. Tetapi memang langka untuk bisa mendapat kehormatan masuk The Best Ten. Ini dikarenakan tingkat kematangan kurang atau kurang proporsional antara batang utama dgn cabang, dst sampai ke cucu ranting. Selain itu kalaupun ada cascade yg mapan, mungkin pemiliknya agak enggan membawa atau mengirim pohonnya krn tingkat kesulitan dan resiko di perjalanan lebih tinggi (agak ribet) harus diakali dengan segala cara supaya pohon bisa aman diperjalanan. Lebih-lebih bagi cascade yang benar benar menggantung.

Agung Nugraha: Tanya, bagaimana dengan cascade yang mahkotanya dibawah /sejajar pot (bukan diatas pot) yang dari atas belum dibahas. Apakah lebih sulit lagi mencapai kematangan? Maksud saya, jika kita ingin membuat flow lebih jelas dengan membuat mahkota diujung batang utama yg menjuntai sampe bawah pot. apakah termasuk cascade ato termasuk cascade bunjin?

RAWE

RAWE

Rawe Ngawur : Ada dua permasalahan tentang FLOW pada gaya Cascade yang menjadikan gaya ini susah mencapai hasil yang maksimal! ___1. Flow yang terputus. Pada kasus ini sering terjadi karena adanya paradigma bahwa mahkota letaknya harus selalu diatas, padahal untuk gaya cascade tajuk batang yg seharusnya menjadi mahkota berada di ujung bawah sehingga dibuatlah tajuk cabang yg paling atas menjadi mahkota, padahal dgn cara ini akan membuat flow akan terputus. ___ 2. Adanya dua Focal Point. Hal ini terbentuk karena adanya satu batang yang memecah menjadi dua cabang secara frontal, yang satu mengarah ke atas sementara cabang lainnya menukik (secara frontal mengarah ke bawah) yg sudah tentu hal ini jika mengacu pada realita alam sangatlah tidak realistis.

Arya Penangsang : (bercanda) focal point itu apa ya?
Teguh Prasetyo: (bercanda) ho oh… itu apa sensei Rawe?

Rawe Ngawur : Begini dik Arya dan dik Teguh, kedua permasalahan tersebut bisa diatasi dengan cara : 1. Tajuk batang yang berada di bagian bawah tetap dijadikan mahkota, sementara cabang yg berada di atas mahkota jika masih memungkinkan untuk dipakai (dengan pertimbangan untuk menciptakan ballance, dimensi atau apapun itu ) buatlah sap atau dgn kata lain menurut versinya bang Robert (Steven) adalah Pad/foliage, bukan dibuat mahkota, 2. Untuk menghindari adanya Focal Point (titik fokus) ganda, sebaiknya batang yang mengarah ke atas (as untuk mahkota) jangan di buat secara tiba-tiba frontal tetapi di buat agak gemulai/ sealur dgn cabang yang menjuntai.

Sitoy Suwarto : Lho heh, diskusi masih berlanjut tho? Ya wis aku menyimak saja.
Agung Nugraha: makasih kang Rawe Ngawur atas sedikit mencerahkan dari pertanyaan saya diatas.

Diskusi berlanjut dengan beberapa peserta saling mengunggah (upload) foto-foto berbagai jenis bonsai cascade dengan segala permasalahannya … sementara style parlemen jalanan (lebih tepatnya Srimulat) ala Koplak pun menghangatkan suasana dan keakraban.

Norman YS

Norman YS

Lebih-lebih –benar-benar tak pernah terduga sebelumnya– ketika Norman Yasir, seorang bonsai artis asal Brebes yang kini menetap di Yogya, mengunggah video intelek-kocak Vikinisasi …. Floor menjadi kacau balau, terkial-kial, terbahak-bahak, tergelak-gelak sepanjang sisa malam. Kata-kata ‘aneh’ ala Viki pun mendominasi diskusi, sampai kemudian ….

Rudi Julianto mengunci diskusi ‘Kontroversi Cascade’ yang melibatkan dan dipantau oleh para bonsai artis Sitoy Suwarto, Hammam Haris, Eko Pleret, Rudi Julianto, Agung Nugraha, Arya Penangsang, Andi Bonsai, Kurniadi Setiawan, Rondy Bonsai, Sandi Winoto, Bonsai Hegar Cipariuk , Bonsai Gajah, Kusiyono Ae, Ayah Ayunda Gardening, Pancung Bonsai Club, Bonsai Cilacap, Hassan Nano Salihamidzic, Rawe Ngawur , Cak Parto, Teguh Prasetyo, Norman Yasir , Sandy Fathurachman, Koe Tje Liek, Munawar Zain, Robby Huang, Handoko Ndok Dp, Oscar Malolomalocot, Kenzie Radhitya Fitrah, Septyan Maulana Fachrizal, Alie Bonsai, Muhammad Alfareel Arkananta, Tēđđý Jābŕïx, Situ Bonsai, Bagus Abian, Wonk Sableng ini dengan kalimat yang mengharukan ….

““Jadi begini teman-teman, sebenarnya bonsai cascade adalah harmonisasi dari sebuah konspirasi kemakmuran yang ada pada proses kudeta hati sang seniman dalam labil ekonomi yang basically twentynine my age”.  Jajajajajaja

EKSPOR JEPANG TUMBUH 10 KALI LIPAT
WHY BONSAI DEADWOOD DOMINATE?

14 Comments

  1. Koe Tje Liek says:

    menyegarkan…

  2. Betawi Asli says:

    Ini grup apa lagi ye? Gue demen nih ….

  3. Gunawan Love Bonsai says:

    Wong koplak sungguhan itu Kusiyono … pendapatnya aneh tapi asli! Wuakakakakakkk

  4. Tedi Bonsai Hegar Cipariuk says:

    sajian menerik lewat gaya tulisan koplak…

  5. Sitoy Suwarto says:

    pendapat orang koplak cenderung genius
    pendapat orang genius terkadang koplak

  6. Rudi Julianto says:

    Seandainya orang orang yang ndak koplak itu membaca semiu diskusi yang ada di Group Koplak….. Hmmmmmm….. Pasti mereka pada bertanya, …. “Sebenarnya yang koplak ini siapa…???? Hahahaaaaa…..

  7. ronnie yazid says:

    hidup koplaaaaak…. hahahah

  8. Cak Parto says:

    Akh . . . ternyata aku memang masih diselamatkan oleh keadaan
    karena aku memang bukan B****I Artis, hehehehehe
    memang kita harus terus sabar memahami keadaan.
    Mbah Sitoy memang Genius dan bukan CENDERUNG
    maka . . . . beliau memang . . . .

  9. Bonsai Guru says:

    Saya bukan anggota Bonsai Koplak. Tetapi saya kenal sebagian besar dari mereka di facebook, orang2 khas yang entah kenapa komentar2 mereka selalu membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Bravo Bonsai Koplak!

  10. Ki Sodron says:

    Hahahahahahaha orang-orang ‘gila’ berdiskusi!

  11. Sihar Ramses Simatupang says:

    Keren, bervitamin dan menyegarkan…

  12. Bonsai Line says:

    do you have a twitter that i can follow?

  13. Adam Bonsai says:

    Casecade style, memang sangat menarik di setiap tampilannya. Untuk membuat karya ini memang tidak mudah, bahkan sedikit memutar Otak kita ketika Reposisi awal mencari garis tegas adar base (akara ekpresif) hingga flow, trunk tdk terputus menyatu, Akselerasi akar dominan dlm karya ini, dramatic momen juga jadi fokus, kombine jin shari pada penghujung crown akan menambah art yang logic. Crown minimalis itupun logic karena beratnya proses fotocintesis(Biologi). Salam Seni.

  14. Kusiyono Ae says:

    Walaupn demikian sy lg mnyiapkn style ini, semoga bs brkibar di arena kontes nanti… Salam bonsai.

Leave a Reply

Copyright © 2013 bursabonsai.com · All rights reserved