40 TAHUN MENYIKSA BONSAI “UBUR-UBUR”

1_menyiksa_front

SEJARAH bonsai dari spesies Birch ini terlalu panjang untuk diceritakan. Di tanam dari biji oleh world-class master Armando Dal Col (Italia) pada 1966, kemudian mulai dibentuk –dengan pengawatan yang ‘mengerikan’– dan diabadikan dalam foto hitam-putih pada 1971.

"Serpi Medusa" pada usia 25 tahun

“Serpi Medusa” pada usia 25 tahun

“Setelah lima tahun tertanam di tanah, pada tahun 971, mulai saya bentuk bonsai ini dengan kawat tembaga bekas kabel listrik. Saya terinspirasi Medusa –wanita berambut ular– setelah melihat sebuah bonsai Sophora Japonica yang cabangnya meliuk-liuk dramatis, sangat mempesona,” cerita Armando Dal Col pada BursaBonsai.com.

Dalam perjalanannya, zaman itu, karena kurangnya informasi dan literature yang diterima Armando Dal Col tentang teknik membuat bonsai serta karakter setiap pohon, tahun demi tahun banyak cabang bonsai “Medusa” dari spesies Birch ini mati secara susul menyusul.

Tema “Medusa” pada bonsai ini pun perlahan-lahan berubah, sesuai bentuk akibat banyak cabangnya yang mati. Armando Dal Col menambahkan tema menjadi ‘Serpi Mendusa’. Serpi (bahasa Italia) artinya ular, sementara Medusa sama artinya dengan ubur-ubur.

Birch "Serpi Medusa" pada usia 35 tahun

Birch “Serpi Medusa” pada usia 35 tahun

Setelah melakukan pengamatan bertahun-tahun, Armando mengambil kesimpulan bahwa pohon Birch adalah salah satu spesies yang bukan saja sangat menarik tapi juga sangat sensitive. Salah satu cirri khasnya adalah tumbuh cepat, memilik kelemahan yakni cabang tidak bisa berdiri seperti umumnya pohon lain, terutama jika kita hendak membentuk kanopinya seperti bulan sabit. Pruning juga tidak bisa sembarangan. Jika tidak hati-hari dalam pruning, terutama pemotongan cabang atau ranting, getahnya bisa menutup tunas dan tidak bisa tumbuh ranting atau cabang baru.

“Untungnya, Birch memiliki kemampuan baik untuk menghasilkan tunas dan kecambah di dasar akar, demikian juga di kedua sisi ketiak cabang. Selalu bertunas dan bertunas,” cerita Armando.
Oleh karena itu, untuk mengerem pertumbuhan yang begitu cepat, juara dunia dua kali lomba foto bonsai (WBFF Bonsai Photo Contest) ini melakukan beragam bentuk “penyiksaan” terhadan Birch “Ubur-ubur” ini.

Untuk mengatasi hilangnya cabang misalnya, diperlukan campur tangan kita dengan frekuensi tertentu dengan pemangkasan tunas dan pemotongan daun yang lebih besar. Dengan cara ini adalah mungkin untuk mempertahankan kekompakan vegetasi. Cara lain adalah menggunakan pot ceper (tipis), kadang mengabaikan kebutuhan substrat yang harus selalu lembab.

Armando dengan "Serpi Medusa" pada usia 45 tahun, plus foto dirinya dan bonsai kesayangannya di tahun 1971

Armando dengan “Serpi Medusa” pada usia 45 tahun, plus foto dirinya dan bonsai kesayangannya di tahun 1971

Bagi Armando, bonsai Birch “Serpi Mendusa” ini bukanlah bonsai terbaiknya. Tetapi bonsai ini menjadi kesayangannya karena dia buat dari mulai biji yang dutanam di kebunnya, berberapa kali gagal dalam pembentukan, belasan kali repoting dan rewiring. Kini usia bonsai yang dia “iksa” –meski tampak kecil begini– secara habis-habisan ini suah 47 tahun (1966-2013). ::: iwan@bursabonsai.com

THE HISTORY OF KUSAMONO

Leave a Reply

Copyright © 2013 bursabonsai.com · All rights reserved